My Diary & Experiences

Tak Sama


Hari ini tampak berbeda. Semua orang berlalu lalang dengan kesibukannya menghadapi esok hari yang dinanti-nanti. Aku tetap terdiam, merenungi jalan kehidupan yang telah aku lalui selama 20 tahun terakhir. Adikku yang paling bungsu sudah bermain dengan dunianya sendiri, tepat di depan tempat dudukku. Kali ini bukan tempat duduk biasa, tapi tempat duduk penduduk pasar yang pagi itu aku kunjungi.

Pikiranku kembali berselancar ke 5 tahun yang lalu. Terus bergerak ke tahun berikutnya, hingga berhenti pada tahun di mana sekarang aku menulis harian ini. Semuanya begitu cepat berubah. Rasanya baru kemarin aku duduk di seberang jalan, menunggu bis kota saat penduduk lainnya mungkin baru masuk kamar mandi, gosok gigi. Dan sekarang, di tempat yang sama, aku telah siap memegang gelar sarjana yang 2 bulan lagi aku persembahkan untuk orang tuaku.

Aku tetap merenungi setiap skenario kehidupan yang dihadiahkan Allah kepadaku. Semuanya seakan hadiah paling berharga. Melihat bagaimana saat ini kepribadianku, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya bersyukur kepada Allah. Meskipun tidak berubah banyak, setidaknya pemikiranku tidak lagi seperti dulu yang teguh akan prinsip pribadi dan menolak segala masukan dari orang lain. Kini aku sudah berlagak seperti gelas kosong.

Mama akhirnya kembali dari dalam pasar dan berteriak, “Vita, sayurnya habis. Masak sup wortel aja yaa,” teriaknya mengagetkanku yang sedang menunggui motor. Aku pun mengiyakan tak berselera. Bagaimana tidak, seenak apapun masakan yang aku buat nanti, mama tidak akan mencicipinya karena ia anti sayur. Bahkan adik-adikku pun tidak akan buka puasa di rumah. Mereka sudah punya tugas lain, stay tune di yayasan yang membiayai mereka sedari kecil. Mengaji, mengaji dan mengaji. Bermain dengan anak-anak pesantren. Sepertinya mereka pulang hanya saat tidur saja.

Malam tiba saat aku hendak menonton Descendants of The Sun, serial drama Korea yang telah menyuntik ribuan remaja dunia dengan kisah romantis tentara dan dokter. Meski hari ini adalah malam Idul Fitri, aku tak berminat beranjak dari rumah hanya untuk melihat keramaian di alun-alun. Tapi ajakan mama sepertinya menggoyahkanku. Tak apalah, sekalian aku mencari kopi dingin untuk menemaniku malam ini. Ia mengajakku membeli kue untuk hantaran.

Usai membeli kue, mama sepertinya tidak ingin langsung pulang dan malah mengajakku melihat keramaian. Di kampung kami, malam Idul Fitri selalu dihiasi dengan takbir di mana-mana diiringi dengan petasan di setiap jalan yang memekakkan telinga. Mungkin polisi di sini sudah kalah tradisi. Siapa sangka kalau ternyata yang membeli ratusan kembang api itu adalah remaja masjid besar di sini ? Ini memang membuat rindu. Tapi kadang membuat malas karena malam menjadi tak seproduktif biasanya.

Sampai di alun-alun, aku bertemu adik perempuanku dan mengajakknya jalan-jalan mencari bros (bros ku hilang sejak beberapa bulan lalu). Kadang aku masih tidak percaya bahwa tingginya telah melampau tinggiku. Padahal ia masih duduk di kelas 5 SD. Yah, sepertinya benar kata pepatah, anak kedua akan mewarisi fisik terbaik orang tua, dan anak pertama akan mewarisi kecerdasan terbaik orang tua. Kami melewati masjid besar dan saat itu si pembawa acara takbir sedang mengucapkan terima kasih kepada penyumbang dana terbesar pada acara tersebut. Ternyata 70 persen dari penyumbang adalah saudaraku. Yah, saudaraku di sini adalah pebisnis ulung. Mereka berjualan emas, mendirikan pabrik air mineral, memiliki jasa pengiriman, dan masih banyak lagi. Semuanya seakan tak pernah habis hingga tujuh turunan. Dan besok seperti biasa aku akan mengunjungi rumah-rumah mereka dan mengantongi angpao puluhan hingga ratusan ribu. Rumah pun tak tanggung-tanggung, megah seperti rumah kastil di perumahan Pakuwon Surabaya. Kadang saat mengunjungi rumah tersebut, rasanya tidak puas jika hanya bercengkrama dengan pemilik rumah. Pasti ada keinginan untuk memotret atau berkeliling hingga atap, mencoba mempelajari berbagai desain interiornya. Tapi jelas tidak aku lakukan. Yah, bersikap classy lah.

Pikiranku kembali menerawang jauh sambil mengamati kembang api yang pecah di udara. Tahun depan, mungkin semuanya tak lagi sama. Aku akan bekerja, kuliah di luar negeri dan berbakti untuk negeri dengan menjadi guru atau dosen (meski hanya sementara karena ingin menjadi ibu rumah tangga). Aku akan menjadi wanita mandiri dengan penghasilan sendiri. Dan satu lagi, aku akan membangun bisnis sendiri kelak agar waktuku bisa untuk keluarga. Mengumpulkan modal dari hasil jerih payahku saat bekerja selepas lulus. Aku tidak akan lagi berdiam seperti kelinci yang tak bertenaga. Aku mungkin akan ikut menimbrung dengan mereka. Membicarakan apapun. Bercerita tentang pekerjaan, rencana masa depan, dan lain sebagainya. Yah, semuanya takkan lagi sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: