My Diary & Experiences

Perjalanan Mencintai Dunia Teknik

Saat Inspeksi Korosi Kapal di Dok Ben Santosa

Teknik. Suatu hal yang ga pernah aku bayangin sejak kecil. Ketika ditanya “Vita, besok kalau sudah besar mau jadi apah ?”. Dengan tegas dan mantap aku menjawab, “Mau jadi Insinyur dong.” Padahal sebenernya aku ga pernah tau apa itu insinyur. Alasan utamaku milih insinyur adalah karena bercita-cita menjadi dokter terlalu mainstream. Sementara itu, bercita-cita menjadi artis merupakan khayalan tingkat tinggi kalo ga dibarengi dukungan fisik. (#bukaaib) -____-

Back to the topic. Lah.. terus apa cuma karena alasan itu aku memilih insinyur untuk dijadikan sebuah cita-cita ? Ngga bro. Perlu kalian tau, aku adalah salah satu penggemar Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia. Everybody knows I thought. Gelar insinyur yang melekat pada Bung Karno itulah yang memotivasiku untuk juga mencantumkan gelar Ir di namaku kelak #cieeeh

Then, waktu berjalan hingga akhirnya aku berada dalam kegalauan tingkat akut, memikirkan masa depan. Kapan itu ? Yap ! Pas kelas 3 SMA , tepatnya setelah berhasil menyelesaikan ujian akhir. Bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan “cepat kaya”. Akhirnya aku memutuskan untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN).

Aku menyadari untuk bisa masuk ke perguruan tinggi bergengsi ini aku harus bersaing dengan jutaan penduduk Indonesia yang juga ingin merasakan kuliah yang langsung dijamin pekerjaannya oleh pemerintah. Untuk itulah, mulai dari try out sampai belajar tengah malam pun aku jabanin. Ajaibnya, saat Try Out USM STAN Nasional, Alhamdulillah aku menduduki peringkat ke-4. Sebuah prestasi gemilang (buatku saat itu). Tapi namanya bukan jodoh, ya akhirnya aku tidak melanjutkan pendidikanku di sana. Bahkan, mendaftar pun tidak. Karena apa ? Inget ga, saat itu lagi gembor-gembornya kasus korupsi Gayus Tambunan yang merupakan lulusan STAN. Ifeel berat meeen -_-

Singkat cerita, saat itu aku sudah ditetapkan sebagai peserta SNMPTN Undangan. Jalur mulus untuk masuk ke perguruan tinggi. Dan inilah list Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang aku pilih saat itu :

1. Jurusan Teknik Kelautan – Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

2. Jurusan Biologi – Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

3. Jurusan Farmasi – Universitas Jember

4. Jurusan Teknologi Pengolahan Pangan – Universitas Jember

Kalau dipikir , dilihat dan diraba, keempat jurusan yang aku pilih ga ada kesinambungannya sama sekali (-_-). Bukan tanpa alasan. Alasan pertama yang menuntunku memilih keempat jurusan itu adalah karena aku ga mau disuruh jadi bidan, profesi yang sangat diinginkan mamaku.

Terus kenapa ga mau jadi bidan ? Macem-macem. Mulai dari takut sama darah, ngeri ngelihat orang melahirkan, ngeri ngeliat orang teriak-teriak pas melahirkan, dan yahhh… nggak aku banget lah ya. Aku adalah cewek yang suka menyelesaikan persoalan hitungan daripada harus menghafal makanan apa saja yang baik untuk ibu hamil -___-

Lalu kenapa pilihan pertama ada Teknik Kelautan ? Ini bermula saat aku berkunjung ke perpustakaan di SMA. FYI, aku lebih doyan menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan pas SMA. Karena di situlah aku bisa bercanda sama penjaga perpustakaan (ups salah fokus hahaha) dan menyerap banyak wawasan di luar pembelajaran di kelas. Sasaran utamaku adalah ensiklopedia yang pastinya bermain visualisasi. Nah, saat itulah aku membaca bahwa ternyata potensi laut di Indonesia itu sangat besar. Namun tenaga kerja yang ahli di bidang kelautan masih sangat sedikit.

Banyak pilihan sebenarnya. Ada bidang oceanography, perikanan dan ilmu kelautan, dan teknik kelautan. Cuma gini nih, aku adalah cewek yang penuh dengan kegengsian. “Perikanan” adalah jurusan yang identik dengan nelayan. Itulah kenapa aku ga mau memilih jurusan ini. Sedangkan untuk Oceanography, jurusan yang memiliki rating tinggi hanya berada di Institut Teknologi Bandung (ITB). Anyway, aku sadar banget sama kemampuanku yang pas-pasan. Jadi aku urungkan niatku untuk mengambil jurusan itu. Apalagi mama (malaikat terbaikku) adalah satu-satunya orang yang ga ingin jauh dari aku.

Mungkin memang sudah jalannya, saat itu tiba-tiba aku menemukan brosur Jurusan Teknik Kelautan ITS di mading sekolah. Di sana dijelaskan bahwa jurusan ini adalah jurusan teknik kelautan tertua di Indonesia. Suatu hal yang sangat menarik dan bisa dibanggakan, guys ! Apalagi di sana juga tertulis, jurusan ini juga mendapat predikat terbaik se-ASEAN. Gimana ga melting tuh aku —

Sebenernya, aku ga ada keinginan untuk mendaftar jurusan lain selain jurusan Teknik Kelautan ITS. Tapi karena Kementerian Pendidikan saat itu memberikan kesempatan untuk memilih empat jurusan dalam dua PTN. Jadi jika ditanya alasannya, kenapa Biologi ? Karena ada pelajaran menyelamnya -_-. Terus kenapa Farmasi ? Karena temen baikku daftar di situ juga (oh my… !). Dan kenapa Teknologi Pangan ? Karena keluargaku rata-rata bekerja di PT Perkebunan Nusantara. (bzzzz…)

Next, saat menjadi Mahasiswa Baru di Jurusan Teknik Kelautan (Tekla), sempet kaget melihat alat-alat berat yang terpajang di laboratorium kampusku. Inikah alat-alat yang akan aku gunakan untuk praktek nantinya ? Lebih mengerikan daripada hanya sekedar bermain kodok dan cacing di laboratorium Biologi jaman SMA dulu.

Sekelebat adegan mengerikan film Final Destination bahkan sempat menghampiri otakku. Bayangkan saja. Di Laboratorium Dinamika Struktur misalnya. Di sana banyak sekali alat-alat berat yang berfungsi untuk mengecek kekuatan sebuah struktur baik beton maupun besi. Bentuknya yang seperti ayunan raksasa kadang membuatku kagum. Harganya pasti mahal hmmm… Belum lagi peralatan lainnya yang bermaterial besi dan baja. Wuidih. Berasa kuliah di bengkel .

Namun apakah keadaan tersebut membuat aku menyesal telah memilih jurusan ini sebagai salah satu tujuan hidupku ? #ceileeeh. Sayangnya enggak. Sifat keingintahuanku pun muncul di sini. Apakah bisa cewek seimut aku (jangan ketawa) merancang sebuah superstructure pengeboran migas di tengah laut ? Bukankah itu adalah hal yang sangat keren ? Yah semenjak itulah aku mulai mencintai jurusan ini.

Semester pertama kuliah, sangat membosankan. Semua mata kuliah hampir tidak ada bedanya dengan jaman SMA dulu. Kalkulus, apa bedanya dengan matematika ? Cuma beda nama doang biar keliatan lebih kece -__-. Lalu Fisika Dasar ? Yaelaah… Kadang aku berpikir. Apa gunanya seleksi masuk lewat SNMPTN atau semacamnya jika pas kuliah kita masih saja disibukkan dengan hal-hal dasar tersebut ?

Menginjak semester kedua, kita masih saja disibukkan dengan ilmu-ilmu dasar. Tapi ilmu dasar yang lebih khusus. Seperti ilmu tentang material dan permasalahan metode numerik. Sempat dibuat stres gara-gara harus menulis laporan praktikum berlembar-lembar. But its totally absorbing guys 🙂

Sampailah ke semester perancangan, semester tiga. Di sini aku mulai mengenal software pemodelan 2D, ACAD. Tidak ada kuliah untuk mengoperasikan pemodelan ini. semuanya murni belajar sendiri. Dan di sini aku mulai merasakan JADI ANAK TEKNIK.

Awalnya aku pikir anak teknik hanya bergelut dengan alat-alat keras. Maklum, beberapa laboratorium jurusanku terdiri dari alat-alat berat yang memiliki nilai milyaran rupiah. (baca : saking beratnya) :p

Tapi ternyata lama kelamaan aku semakin sadar bahwa engineer dengan tingkat pendidikan Strata 1 bukanlah teknisi secara langsung. Memang, tak menutup kemungkinan lulusan s1 Teknik Kelautan akan bekerja di lapangan. Tapi bukan untuk menerima tugas dan perintah dari atasan, tapi biasanya untuk melakukan inspeksi. Pekerjaan di lapangan sesuai dengan yang didesain di awal atau tidak. Pekerjaan yang keren menurutku. Karena bukan hanya menuntut kualitas hasil, tetapi juga menuntut tanggung jawab.

Kala itu kuliah Teknologi Produksi sedang berjalan, lalu Prof Soegiono (dosen plus pendiri Jurusan Teknik Kelautan) bercerita, saat itu beliau bekerja di perusahaan kapal di Belanda. Dan ketika sang desainer kapal meluncurkan kapal untuk pertama kalinya, ia tidak lupa membawa senjata (pistol kalau tidak salah). “Pistol itu nantinya ia gunakan untuk bunuh diri jika kapal tersebut tenggelam saat pertama kali diluncurkan,”. Begitulah budaya orang-orang barat yang sangat malu saat usahanya gagal. Namun usaha bunuh diri itu tidak patut dicontoh yaa 🙂

Yap begitulah gambaran seorang teknisi di mata mahasiswa semester 6 Jurusan Teknik Kelautan ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: