My Diary & Experiences

Katanya, Aku

DSC_0088

Katanya, aku adalah satu-satunya wanita yang sabar menghadapinya. Ya, kadang hal itu bahkan membuatku tidak percaya tentang apa yang sudah aku lakukan demi membukakan pintu untuknya.

Katanya, sisi terbaik dari diriku adalah mau belajar dari kesalahan. Dan aku pikir, semua orang pasti akan melakukan hal tersebut. Termasuk dia. Itu naluri. Mungkin saja, hanya dia yang mampu menyadari hal itu dalam diriku.

Katanya, aku tidak perlu lagi mengingat masa lalu. Tapi bukankah masa lalu akan terus mengendap dalam ingatan sebelum aku amnesia ? Biarlah kata-katanya itu aku artikan demikian. Aku akan membuat masa laluku menjadi batu loncatan untuk masa depan yang lebih berharga. Sama saja bukan ?

Katanya, aku adalah orang yang tidak bisa menerima diriku sendiri, tidak bisa menerima kesalahan yang sudah aku perbuat sebelumnya, tidak bisa menerima kegagalan di masa lalu. Ya, kali ini aku tidak bisa membantah apa yang sudah dikatakannya. Rasanya berat untuk memaafkan diri sendiri. Jauh lebih berat dari memaafkan kesalahan orang lain. Tapi bukankah Allah saja Maha Pemaaf ? Setelah ia mengungkapkannya langsung di depanku, aku sadar bahwa aku begitu kikir akan maaf kepada diriku sendiri.

Katanya, aku egois terhadap diriku sendiri. Menyiksa diri untuk membahagiakan orang lain. Ya, benar. Tapi rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya saat kita melihat senyum orang yang kita sayang ternyata tersimpul karena kita. Bukankah begitu ? Ini teori pribadiku. Tapi mungkin ia akan menjawabnya di kemudian hari.

Katanya, aku harus banyak belajar. Jangan pernah puas dengan satu ilmu saja. Katanya aku harus menjelajahi semuanya yang ingin aku ketahui. Tersenyum aku mendengarnya. Malu karena kedokku akhirnya terbuka. Rasanya dia selalu mengerti apa yang ada di dalam diriku yang memang aku sembunyikan. Termasuk tidak mau belajar karena merasa sudah bisa.

Katanya, tidak perlu menjadi orang lain untuk membuatnya jatuh, jatuh cinta. Tidak. Aku sama sekali tidak sedang membuatnya jatuh. Justru aku sedang memberinya isyarat bahwa justru aku yang saat ini sedang jatuh. Lebih jatuh dari apa yang pernah ia pikirkan. Jatuh hingga terperangkap dan tidak mampu untuk keluar. Ya, keluar dari hatinya.

Katanya, aku harus bisa menjadi mutiara nanti. Katanya, ia akan menungguku. Walau kini aku masih menjadi butiran pasir pantai yang basah, aku percaya penantiannya dan penantianku tidak akan sia-sia nanti. Ya, aku percaya..

Check Puspa Devita’s project on Soundcloud here :

https://soundcloud.com/puspa-devita/katanya-aku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: