My Diary & Experiences

Diary #1 Antara Hidup dan Mati

Sudah 4 hari semenjak aku kecelakaan parah. Saat itu hari Senin, 25 September 2017. Aku bersyukur Allah masih menyelamatkan nyawaku. Bagiku, itu adalah kecelakaan paling parah yang pernah aku alami. Aku masih ingat saat itu bahkan aku harus menunggu pertolongan selama beberapa menit dan tergeletak di jalanan sambil menutupi kepalaku yang bocor. Aku masih sadar. Luar biasa. Aku bahkan tidak percaya tubuhku memiliki kekuatan yang luar biasa. Saat itu aku merasakan darah terus mengucur. Rasanya tanganku bahkan tidak mampu untuk menutupi darah yang memenuhi wajah, jilbab, dan maskerku. Aku yakin saat itu penampakannku begitu mengerikan, sampai sampai orang takut untuk menolongku.

2 menit, 3 menit. Rasanya aku sudah tidak kuat menahan sakit di kepalaku. Tiba-tiba ada seseorang menggendongku dan menepikanku sambil berteriak, “Kejar mobil itu sekarang !”. Ya mobil yang membuat aku mengerem secara mendadak dan jatuh. Orang itu terus berteriak menyuruh seseorang mengejar mobil yang menjadi penyebab aku terjatuh sambil menyebutkan plat nomor dan ciri ciri kendaraannya.

Tiba-tiba aku merasakan banyak orang mengerubutiku. Mataku masih terpejam. Beberapa orang berteriak meminta mobil apapun untuk berhenti dan mengantarku ke rumah sakit. Berulang kali aku merasa tanganku digenggam. Mereka mengecek nadiku. Orang-orang semakin khawatir dan terus memanggilku saat badanku mulai melemas dan akhirnya pingsan untuk beberapa saat.

Setelah sadar, aku masih memejamkan mata untuk meminimalkan rasa sakit yang sangat di kepalaku. Aku pingsan hanya sebentar. Sekitar 1 menit. Lalu aku mendengar ada mobil berhenti untuk mengantarku ke klinik terdekat.

Di dalam mobil, seseorang terus memelukku dan memegang tanganku. Kadang dia berbisik, “Hey bangun…” . Dia terus mengucapkan itu sepanjang perjalanan sambil terus memegangiku agar darah dari kepalaku tidak semakin banyak. Karena sedikit saja badanku miring, darah segar akan kembali mengucur dari kepalaku. Aku bisa merasakannya. Bahkan bau darah terus tercium. Tapi aku bahkan tidak kuat untuk membuka mata. Terlalu sakit dan perih. Aku memilih untuk diam dan tetap memejamkan mata meski orang itu terus menggoyangkan tanganku dan membangunkanku dengan khawatir.

Sampai di klinik, aku mendengar seorang dokter bersuara tegas dan berat sedang menginterogasi seseorang yang telah menolongku. Ya, sebab mau tidak mau dia akan menjadi penjaminku. Berulang kali aku mendengar mereka membicarakan biaya. Aku merasa kasihan padanya. Aku tau pasti dia sangat panik. Berulang kali dia mengatakan kepada dokter bahwa dia tidak membawa dompet bahkan handphone karena dia terburu2 saat mengantarku di sini. Aku mengiyakan dalam hati. Orang itu tidak berbohong.

Dengan sekuat tenaga, aku pun membuka mataku. Membuat dokter, suster, dan lelaki itu sedikit lega. Kalau tidak salah saat itu dokter langsung meminta orang itu untuk menghubungi ortuku. Oh tidak. Aku benar2 tidak ingin ortuku tau kejadian ini. Aku tidak ingin mereka khawatir. Tapi apa boleh buat. Berbicara pun aku sangat sulit karena memar dan luka di bibir. Aku membiarkan mereka menggeledah tasku dan mencari handphone ku. Aku bahkan mendengar percakapan dokter dengan mamaku di telepon. Mamaku sangat khawatir. Setelah beberapa menit, dokter itu menutup sambungan telepon dan pergi. Di sisi lain aku merasa lega karena dokter itu tidak lagi berbicara dengan orang yang menolongku dengan nada intimidasi. Aku kasihan padanya.

Beberapa saat kemudian dokter kembali dengan suster dan menyuruhnya melepas jilbab, jaket, dan jas hujan yang masih melekat di tubuhku. Saat membuka jilbabku, kudengar dokter itu sedikit merasa kesal karena sangat sulit untuk membukanya. Dia bahkan meminta suster untuk membantu melepaskan. Ketika kepalaku dijahit, orang yang menolongku tetap berada di sampingku dan memegangi tanganku. Sampai saat itu aku masih memejamkan mata. Aku mendengar dia berkata , “Sabar yaa…sabar..”. Tapi aku tidak bisa merespon apa2 selain erangan sakit saat jarum suntik bius menyentuh bagian kepalaku yang bocor. Tidak lama, proses jahit menjahit selesai.

Setelah dijahit, suster mengajakku berbicara. Membangunkanku juga. “Mba, apa sudah kuat bangun? Kalau sudah kuat lebih baik cuci muka saja karena wajah mbak penuh darah.” Aku pun membuka mata. Tapi tidak bisa merespon perkataannya karena bibirku kelu akibat memar yang amat sangat. Ia mengerti dan pergi mengambil handuk basah. Suster itu pun membersihkan wajahku dengan lembut. Setelah selesai, ia meninggalkanku.

Kini tersisa aku dan orang yang menolongku. Kulihat dia sedang gelisah. Berkali-kali dia mengajakku berbicara. Tapi aku hanya bisa membalasnya dengan bergumam. Dia bingung harus pulang naik apa dan siapa yang akan menggantikan dia menjagaku di klinik. Aku semakin merasa tidak enak. Dia lalu meminjam handphoneku untuk menelepon temannya untuk menjemput. Dia juga memintaku untuk memberi tahu siapa temanku yang bisa menggantikannya menjagaku di klinik. Mau tidak mau aku menyebutkan teman kosku, Listia. Tapi aku tahu jam segini dia masih bekerja. Tapi aku tidak ada pilihan lain. Selesai menelepon temanku, orang itu mohon izin untuk pulang. Aku mengiyakan karena aku tahu pasti dia juga punya urusan. Dia pergi tanpa pamit kepada dokter. Aku tahu, dia melakukan itu agar dokter tidak menahannya di klinik untuk menjagaku. Aku pun membiarkannya berlalu.

Hampir 2 jam aku sendirian di klinik. Setelah dijahit, aku mulai merasa keadaanku kian membaik. Aku pun berusaha menguhubungi temanku satu kantor, Charin. Aku berharap dia tidak sedang liputan dan bisa menjemputku. Beruntung, dia langsung merespon chatku dan langsung menuju klinik. Aku tahu Listia akan lama sampai di klinik karena dia masih berkerja. Untuk itulah aku menghubungi Charin lewat chat WA. Sebelum menghubungi Charin, aku sempat menghubungi seseorang. Tapi karena dia mungkin sedang bekerja, chatku hanya centang satu.

Selama menunggu Charin, banyak chat masuk dari wartawan ekonomi bisnis dari media lain. Rata-rata mereka menanyakan apakah aku meliput Menteri Perindustrian di Hotel Swiss Belin atau tidak. Ya, saat kecelakaan ini, aku memang sedang bertugas untuk meliput Menperin. Aku pun membalas beberapa pesan mereka berikut dengan alasannya. Kebanyakan dari mereka kaget. Aku memakluminya. Beberapa saat setelah itu, grup chat tim ku di kantor tiba2 ramai. Fotograferku, mas Frizal mengatakan bahwa aku kecelakaan. Mampus lah.

Aku memang berniat memberi tahu orang kantor lewat Charin setelah keadaanku membaik agar mereka tidak khawatir dan ribut. Tapi tindakan mas Frizal di chat group menggagalkannya. Semua orang ribut. Tiba-tiba kepala divisiku menelepon. Aku tau dia khawatir. Karena di group chat dia terus menanyakan keberadaanku ke Charin. Sayang aku tidak bisa mengangkatnya. Percuma. Bibirku sulit mengeluarkan suara karena mengalami memar yang lumayan parah. Selanjutnya aku hanya membiarkan handphoneku terus berbunyi. Entah itu chat atau telepon. Aku memutuskan untuk menjauhkan benda itu dari tubuhku karena kepalaku mulai pusing lagi setelah melihat cahaya dari handphone.

Setelah sekitar 2 jam menunggu, Charin dan Listia datang. Beberapa menit kemudian, kepala divisi (redakturku) datang. Ya, dia adalah orang yang paling khawatir saat aku sempat membaca chat di group. Jujur aku malu kalau dia sampai menjengukku di klinik. Aku merasa sangat merepotkan. Ya, aku sudah dua kali kecelakaan saat melakukan liputan. Ah, memang selalu merepotkan. Tapi di sisi lain, kedatangannya memang aku harapkan. Dia membawa mobil. Ya, satu masalah terselesaikan. Aku bisa pulang tanpa perlu repot-repot memikirkan harus naik apa. Ah aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih padanya. Aku sungguh merepotkannya.

Sesampai di rumah, aku memandang cermin di lemariku. Kulihat pantulan tubuhku yang lusuh. Bibirku yang memar dengan bekas jahitan di kepala. Aku ingin tertawa. Bagaimana mungkin, 4 jam sebelumnya aku tergeletak tidak berdaya dan penuh darah di jalanan. Sekarang aku bisa berdiri tegak di depan cermin sambil memandangi tubuhku yang memar. Sungguh keajaiban Allah.

Hari itu, entah kenapa aku sangat merindukan-Nya.

PicsArt_07-28-02.19.08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: