My Diary & Experiences

Diammu dan Diamku

Diam. Sebuah bahasa langit yang hanya bisa kita pahami dengan hati. Dan kini kau memilih untuk diam. Bahasa yang kau pilih untuk menyampaikan rasa itu padaku.

Sudah lama aku merasakan diam yang kau pancarkan. Sudah terbiasa aku akan diam yang kau buat selama ini. Sudah kupahami saat ini bahwa diam yang kau buat adalah untuk bercakap bebas dengan dirimu sendiri.

Mungkin, diammu sama seperti yang bumi sampaikan kepada langit, hujan kepada tanah, angin kepada pucuk bunga, tanah kepada akar pohon , dan malam kepada pagi.  Kini aku belajar, bahwa ternyata diam adalah hal yang diajarkan semesta kepada kita, bahwa ketenangan selalu berhubungan dengan keheningan.

Tak perlu aku banyak bicara menanggapi diam mu. Tak perlu pula aku mengajakmu bicara dalam diam mu. Kini aku pun diam. Berusaha mengimbangi frekuensimu dalam menyampaikan rasa.

Kini aku pun diam. Diam dalam teriakan hati yang selalu aku panjatkan dalam panggilan adzan. Diam dalam renungan setiap malam sunyi. Diam dalam tatapan kosong kepadamu saat kau berada di sekitarku.

Terima kasih, engkau telah mengajarkan bagaimana diam menjadi sebuah puisi yang indah dan sajak yang sangat panjang. Bagaimana diam bisa membawaku untuk bercakap bebas dengan-Nya. Bagaimana diam bisa menjadi sebuah bahasa semesta yang menyadarkanku, bahwa sebenarnya Tuhan tidak diam saja seperti kebisuan kata yang kita ungkapkan.

Diam mu, memulai diam ku dengan sangat sempurna.

Check Puspa Devita’s project on Soundcloud here :

https://soundcloud.com/puspa-devita/diammu-dan-diamku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: