Engineering,  My Diary & Experiences

Be The Real Drafter

Sudah 2 bulan lebih aku duduk di depan komputer untuk menggambar plat dan sekat kapal di PT Mitra Artha Gema Pertiwi, perusahaan pertama tempatku mengawali karir. Bekerja di sini rasanya tidak canggung karena rekan kerja rata-rata seumuran denganku dan jobdesk yang aku terima saat ini sama dengan jobdesk yang aku terima saat Kerja Praktik (KP) dulu. Yah, meski sekarang aku cuma bisa stay di kantor tanpa bisa ikut jalan-jalan ke galangan seperti saat aku KP dulu. (jalan-jalan katanya -_-)

Well, setelah resmi dinyatakan lulus beberapa bulan yang lalu aku sempat khawatir tidak akan berjumpa lagi dengan Auto CAD. (maaf alay T.T) Yahh..melihat beberapa seniorku bekerja di tempat yang beraneka ragam, termasuk Bank, yang ga mungkin menggunakan Auto CAD di kesehariannya. Kekhawatiranku muncul karena gender sangatlah mempengaruhi di dunia engineering. Rata-rata perusahaan akan meminta laki-laki untuk dijadikan karyawan, jadi yang wanita akan berlari ke Bank atau perusahaan finance lainnya. (tidak selalu loh ya)

Luckily, aku berkesempatan menjadi drafter di MAGP dengan bantuan salah seorang karyawan di sana yang memang sudah dekat denganku saat aku menjalani KP di sana. Namanya Mas Vian. Meski belum menjadi the real engineer, tapi setidaknya aku menjadi the real drafter (pembantu engineer wkwkwk. Becanda ding)

Bekerja sebagai drafter di MAGP susah-susah gampang. Pasalnya, aku sudah terbiasa menggambar struktur pantai dan lepas pantai, bukan kapal. Pernah sih, saat semester 2 aku menggambar linesplan (rencana garis) kapal. Tapi yaudah, sampe situ aja aku mengenal kapal, hiks. Pas di dunia kerja, disuruh ngegambar seluruh bagian2 kapal sepertiΒ shell expansion (kulit kapal yang terbuka), transversal bulkhead, ring belt, hatch cover, superstructure, dan berbagai macam jenis plat lainnya. Takjub plus bingung hahahha. Jadi wajar aja pas pertama kerja di sana aku mondar-mandir nanya ke Mas Yudha (rekan kerja paling klop wkwkkw)

Yah, meski aku sudah mendapat kerja, tapi aku masih gatal mencari pekerjaan sampingan lainnya. Bekerja di MAGP tidak sesibuk yang aku kira sebelumnya. Meski aku harus stay di kantor from 9 to 4, tapi biasanya (biasanya loh ya..) jam efektifku untuk kerja di sana cuma 3-4 jam. Semuanya tergantung proyek. Yah, begitulah kalau perusahaan marine service. Perusahaan jasa akan bergantung dengan permintaan konsumen, tidak seperti perusahaan manufaktur yang selalu melakukan proses produksi setiap hari.

Suatu hari, aku ditawari bergabung di tim Redraw ITS oleh salah satu senior ITS Online yang dulunya juga menjadi pekerja lepas di sana. Apaan tuh ? Awalnya aku juga bingung haha. Redraw ITS adalah tim penggambar ulang desain-desain kapal manual yang hanya digambar menggunakan alat tulis pensil, mal, dsb. Intinya ga pake komputer lah ya. Biasanya desain-desain kapal manual itu dibuat agar para desainer bisa lebih leluasa merancang konstruksi kapal.

First time, aku pikir pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang gampang karena setiap hari kerjaanku juga ngegambar dan membuat report. Pas ketemu dengan dosen proyeknya, beliau memberikan kertas-kertas ukuran A3 – A2 yang isinya huruf kanji semua. Nahan ketawa plus nepok jidat deh haha. Ga nyangka, yang aku gambar adalah konstruksi kapal buatan Jepang yang ribetnya MasyaAllah. Ada 15 gambar yang ditawarkan. Dan beliau bertanya kapan aku bisa menyelesaikan semua gambar itu. Dengan santai dan penuh percaya diri aku menjawab 2-4 hari. Yah pede lah, tiap hari aku sering ngegambar lebih dari 8 lembar. Si Bapak terdiam untuk beberapa saat lalu menjawab, “Saya biasanya 2 minggu,”. WHAAAT ?!! Lalu si Bapak menyuruhku menggambar 1 lembar saat itu juga di meja kerjanya. Baru 2 menit ngerjain, si Bapak bilang semua gambarku salah. Bukan salah sih, tapi kurang tepat. “Puspa, kamu harus memakai skala yang benar,”. MAMPUS! Skala adalah 1 hal yang paling aku hindari dalam membuat gambar.

Selama di kuliah, aku selalu menghindari skala saat menggambar konstrusi, karena biasanya cuma display aja. Saat bekerjapun, aku tidak menggunakan skala saat menggambar karena gambar yang aku buat juga sebagai display. Bukan desain sesungguhnya. Well, ok ok. Kali ini aku harus kembali bertemu dengan skala πŸ™

“Puspa, gambar yang bernilai adalah desain yang sesuai dan tepat ukurannya,”
Begitulah akhir pertemuan kami dan ditutup dengan pemberian deadline 1 minggu untuk penyelesaian 15 gambar tersebut. Araso, I’ll try my best. Ternyata meski bekerja sebagai drafter, aku belum menjadi the real drafter kalau tidak pernah bermain dengan skala -__-

FIGHTING FOR 15 DRAWING !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: