My Diary & Experiences

A Good Bye Greeting from 2015

Hai kehidupan. Tak terasa sudah 20 tahun lebih aku menginjakkan kaki di bumi. Apa kabar pencapaian ? Terkadang miris jika menengok pencapaian yang masih saja bisa dihitung jari. Pencapaian yang hanya seperti itu saja. Malu, iya. Kecewa, iya. Tapi bukannya penghargaan itu diperlukan untuk sebuah pencapaian sekecil apapun ?

Well, sedikit menengok tahun lalu yang baru sehari kutinggalkan. Saat itu aku menginjak semester 6 dan mulai memasuki dunia baru. Dunia akademik yang semakin penuh dengan tanggung jawab dan tantangan. Dunia profesionalitas yang semakin menuntut peningkatan kinerja. Keluarga yang semakin menuntut tanggung jawab seorang anak sulung. Dan cinta, yang semakin dekat dengan “pembuktian”.

Semua berawal  dengan Tugas Rancang Besar (TRB) II atau Perancangan Bangunan Lepas Pantai Statis yang selalu menjadi momok setiap mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan. Dosen-dosen yang autokritik, penuh misteri dan susah ditemui menjadi kesan tersendiri untukku yang saat itu baru menginjak semester 6. Awalnya merasa bersemangat dengan mempelajari software baru bernama SACS 5.6. Begitu senang rasanya bisa mengoperasikan software ini karena hanya dalam waktu tidak sampai 1 jam aku sudah bisa membuat gambar tiga dimensi Jacket Platform yang sebelumnya aku tidak mengerti cara menggambarnya bagaimana. Hmm. Sungguh pencapaian yang luar biasa, pikirku.

Usai 6 bulan bergelut memperjuangkan tanda tangan seorang Profesor di lembar asistensi, ternyata kesempatan itu belum datang. Tiba-tiba aku disibukkan dengan kegiatan kantor yang memadat dicampur dengan mencari tempat kerja praktik yang saat itu memang susah dicari. Ya, akhirnya kandas harapanku untuk lulus TRB II di semester 6. Ini pertama kalinya aku tidak lulus mata kuliah selama menjadi mahasiswa di ITS. Oh my GOD. But, yahh….ternyata hatiku terlalu lapang untuk hal ini. Tidak merasa bersalah atau bagaimana. Entah apa yang aku pikirkan saat itu.

Begitu banyak hal baru yang terjadi di tahun 2015. Pertama kali berkeliling kota Surabaya dengan motor sendiri dan pede berkendara tanpa memiliki SIM. Hm, lumayan nakal. But it still under my control 😀
Mulai dari mengantar seseorang ke Gubeng (saat itu aku bilang sudah biasa berkendara, padahal itu pertama kalinya aku berkendara sampai sejauh Gubeng dan actually aku ga hapal jalan saat itu. Hanya berbekal intuisi dan kepedean yang di luar nalar). Then pertama kali mengaplikasikan GPS di jalan, pertama kali bertemu Bu Risma secara langsung di Balai Kota Surabaya, pertama kali bertemu CEO Maspion Alim Markus langsung di kantornya, pertama kali ngetem di markas wartawan di POLRES SURABAYA, pertama kali mengunjungi markas START Surabaya di Spazio Building yang jauhnya minta ampun (bahkan saat itu aku merasa berada di luar Surabaya). Juga pertama kalinya nyari Bandara International JUANDA sendirian. Lagi-lagi dengan kepedean di luar nalar. Cuma gara-gara pingin melepas kepergian seorang sahabat ke Vietnam hmm. Kadang aku sendiri juga heran dengan ke sok-sok an ku pergi keliling Surabaya tanpa SIM dan belum kenceng megang motor. (Saat itu aku masih membawa motor Suzuki warna biru milik seseorang yang aku namai Blue)
Yah, semua itu bermula saat aku mulai magang di salah satu media ternama, TEMPO GROUP. Saat itu juga pertama kalinya aku dimarah2i redaktur TEMPO gara-gara tulisannya amburadul. Tapi tulisanku dimuat dong yahh. Di Koran TEMPO tanggal 5 Februari 2o15 (^,^)

Begitu banyak cerita baru di 2015, termasuk dalam soal hati. Alhamdulillah di tahun kemarin hati bisa semakin tertata. Memakai pakaian muslimah, bertutur kata santun, dan mencoba menjadi wanita selayaknya yang diajarkan dalam agama Islam. Sampai akhirnya perubahan itu disadari oleh seseorang yang saat itu memang sedang berada dalam relung hatiku yang paling dalam. Tidak pernah ingin aku ungkap. Rasanya hanya ingin menyimpan. Senang rasanya ketika menyimpan rasa tanpa ada orang lain yang tahu. Sayangnya aku bukan orang yang mampu membeli tirai sutra yang mampu menutup rahasia hati dengan sempurna. Ia mulai menyadari keberadaanku.

Bingung, sedih, serta tegang berkepanjangan aku saat itu. Karena ini pertama kalinya aku merasakannya. Pertama kalinya aku menyimpan rasa sebaik mungkin, namun akhirnya tercium olehnya. Pertama kalinya aku merasa gagal dalam menyimpan rahasia hati.

Tersadarnya ia akan keberadaanku akhirnya memulai bab kehidupan baru di 2015. Bab yang lebih hidup. Bab yang penuh akan toleransi hati. Bab yang penuh dengan perbaikan. Bab yang penuh dengan harapan dan tujuan masa depan. Sedih, kecewa, senang, puas, berdebar-debar, aku rasakan samuanya dalam bab ini. Tak dapat aku ceritakan secara detail. Hanya hati ini yang bisa merasa . Hanya hati ini yang bisa bercerita. Dan aku pikir, hanya Allah yang mengerti jalan cerita cinta dan hatiku secara sempurna.

Yah, 2015 yang penuh dengan perubahan hidup. Good bye 2015. Thanks for your time. Thanks to let me learn anything 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: